07 Jan 2018 | 19:41:45 WIB
Pewarta : Budi Waluyo



Anggun dengan Selendang Batik Tanah Liek Dharmasraya

Anggun dengan Selendang Batik Tanah Liek Dharmasraya

Duo sosok perempuan Minang


THE TARGET ----- Dharmasraya.

Dua perempuan kalem ini menjadi perhatian publik saat keduanya hadir dalam rapat paripurna istimewa DPRD Kabupaten Dharmasraya Minggu (7/1/18) di Gedung DPRD Tabiang Tinggi, Kecamatan Pulau Punjung. Disamping memang keduanya memiliki paras yang cantik, dua sosok perempuan Minangkabau itu, tampil anggun dalam mendampingi suami masing masing. Siapa sosok dua perempuan itu?

Dialah Ny. Nevi Irwan Prayitno dan Ny. Dewi Sutan Riska. Keduanya memang menjadi bintang dalam alek tahunan Rang Dharmasraya. Ny. Nevi tampak anggun dengan baju kurung warna merah dipadu dengan selendang motiv batik tanah liek. Di jari manis isteri orang nomor wahid di Sumatera Barat itu terselip cincin bermata lumut sungai dareh, batu permata asli dari Kabupaten Dharmasraya.

Senada dengan itu, Ny. Dewi sebagai tuan rumah juga mengenakan baju kurung sederhana dengan selendang bermotiv batik tanah liek pula. Isteri Bupati Dharmasraya itu tampak sedikit gendut lantaran belum lama ini melahirkan. Namun demikian, Dewi tetap terlihat cantik dengan pakaian dominan warna merah. Terlepas dari itu semua, ternyata duo perempuan yang paling jadi perhatian itu sama sama menggemari kain batik motiv tanah liek.

"Itu batik buatan Dharmasraya," ujar Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar, Jasman Rizal kepada kantorberitathetarget.com. itu berarti duo sosok perempuan Minang menyukai motiv batik buatan anak nagari. Kesukaannya ini patut dicontoh oleh perempuan perempuan lainnya. Sebab, meski buatan anak nagari, toh tampilannya tidak kalah menarik dengan jika memakai kain batik buatan tanah Jawa, atau bahkan kain tenun rancangan rumah mode di Paris.

Warga Dharmasraya juga ikut bangga. Sebab duo perempuan itu berkenan memakai kain batik motiv daerah sendiri. Dan hal itu akan menambah motivasi bagi masyarakat yang kini sedang giat giatnya mengembangkan batik tanah liek. Sebut saja Nagari Koto Ranah, Kecamatan Koto Besar, Kabupaten Dharmasraya. Sejak dilatih membatik oleh Nurkholis, pembatik asal Bukit Mindawa, Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, kini giat memproduksi kain batik tanah liek.

Menurut Walinagari Koto Ranah, jumlah pembatik di nagarinya sudah mencapai 40 orang. Mereka melakukan pola dan membatik secara tradisional sesuai dengan teknik yang didapat dari pelatihan. Dalam sehari, seorang pembatik bisa menyelesaikan satu helai dasar kain. Satu helai dasar kain batik tanah liek dibandrol Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu, tergantung jenis dasarnya. Untuk dasar yang bagus harganya lebih mahal. Dari hasil membatik ini, masyarakat bisa untung Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu tiap helai kain batik.

Kini produksi Batik Tanah Liek Nagari Koto Ranah sudah dipasarkan. "Kalau ada pesanan baru dibuatkan. Dan alhamdulillah, sejak berproduksi pesanan ada terus. Jadi ndak pernah istirahat," kata walinagari yang berniat akan Nyaleg di Senayan ini. Dan jika ada yang ingin pesan, bisa langsung menghubungi BUMNag Koto Ranah Sakti, Nagari Koto Ranah, Kecamatan Koto Besar, Kabupaten Dharmasraya.

Sebelumnya sentra batik tanah liek di Kabupaten Dharmasraya berada di Jorong Koto Agung, Nagari Sungai Duo, Kecamatan Sitiung. Kemudian berkembang di Bukit Mindawa, Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung. Dengan tiga sentra batik, kini produksi batik tanah liek Kabupaten Dharmasraya lumayan berkembang. Apalagi para isteri pejabat, para karyawati dan bahkan para pejabat sudah pula menggandrungi batik tanah liek, tentu menjadi daya dorong tersendiri bagi industri batik Dharmasraya. "Kami bangga, ibu Nevi dan Ibu Dewi pakai batik tanah liek buatan Dharmasraya," kata Marzuki Zain.

Editor :Redaktur

COPYRIGHT © THE TARGET 2017





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment